Berita Daerah


Mencoba Waras di Tengah Lambannya Pembangunan Kopdes Merah Putih
Di tengah semangat pemerintah menggencarkan pembangunan dan penguatan ekonomi desa melalui Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), ironi justru terjadi di Desa Namlea. Program yang seharusnya menjadi simbol kebangkitan ekonomi masyarakat hingga kini berjalan sangat lambat, bahkan terkesan kehilangan arah dan kepastian.
Sebagai pengurus dan pengawas, kami memilih tetap berpikir jernih dan bekerja sesuai amanah. Namun, mencoba tetap waras di tengah proses pembangunan yang terus tertunda bukanlah perkara mudah. Semangat yang sejak awal dibangun perlahan mulai terkikis oleh lambannya realisasi, minimnya kepastian, dan birokrasi yang berlarut-larut.
Keterlambatan pembangunan bukan sekadar persoalan bangunan yang belum berdiri. Yang lebih memprihatinkan adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap keseriusan pelaksanaan program. Ketika janji terus disampaikan tetapi tindakan nyata tak kunjung terlihat, publik mulai bertanya: apakah pembangunan ini benar-benar menjadi prioritas, atau hanya sekadar menjadi bahan pidato dan seremoni?
Pengurus dan pengawas tidak membutuhkan janji baru. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil keputusan, kepastian waktu, serta komitmen nyata untuk menyelesaikan pembangunan Kopdes Merah Putih Desa Namlea. Sebab, koperasi bukan hanya sebuah gedung, melainkan harapan masyarakat untuk memperoleh peluang usaha, lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan.
Kami tetap memilih waras. Kami tetap menjaga integritas. Namun, kewarasan tidak boleh diartikan sebagai sikap diam terhadap keterlambatan yang terus berulang. Kritik adalah bentuk kepedulian, bukan perlawanan. Diam terhadap ketidakpastian justru merupakan pengkhianatan terhadap amanah yang telah diberikan masyarakat.
Sudah saatnya semua pihak yang memiliki tanggung jawab menunjukkan keseriusan, bukan sekadar menyampaikan alasan demi alasan. Masyarakat Desa Namlea menunggu bukti, bukan narasi. Mereka membutuhkan pembangunan yang bergerak, bukan pembangunan yang hanya hidup dalam rencana.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling banyak berjanji. Sejarah hanya akan mengingat siapa yang benar-benar bekerja dan menghadirkan manfaat bagi rakyat.
Penulis:
Asrul Sany Umanailo
Langganan Berita
Dapatkan update terbaru langsung ke inbox Anda
